Kamis, 15 September 2016

Unsur-unsur dalam sejarah

Unsur-unsur dalam sejarah


pendeknya secara mendalam akan diadakan analisis mengenai faktor-faktor kausal, kondisional, kontekstual tentang unsur-unsur y ang merupakan komponen dan eksponen dari proses sejarah yang dikaji.
Dalam bidang kajian keilmuan, sejarah termasuk disiplin ilmu, baik arts maupun humaniora. Sedangkan kajiannya yang bersifat sinkronik menjadikan ilmu sejarah juga termasuk ke dalam “ilmu sosial”.
Oleh karena itu, sejarah tidak dapat dipisahkan dari pendidikan ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora) yang dapat melatih daya untuk berpikir, memberikan kesadaran kepada kita akan nilai-nilai yang telah manusia lahirkan dan temukan melalui pikiran, perasaan, atau perbuatannya.
Advertisement
Sejarah memberikan pengalaman yang luas mengenai kehidupan manusia pada tempat yang berbeda-beda dan waktu yang berbedabeda pula.
Pada pihak lain sejarah juga termasuk salah satu ilmu sosial karena ia berbicara tentang masyarakat manusia dalam perspektif waktu, berbicara tentang masalah-masalah yang telah dihadapi oleh masyarakat dalam interaksi mereka satu sama lain, dan bagaimana mereka telah berhasil atau gagal dalam menghadapi dan mengatasinya.
Di dalam sejarah ada tiga unsur penting, seperti terlihat di bawah ini:
1. Ruang
Tempat terjadinya peristiwa, jadi terkait dengan aspek geografis. Unsur ruang ini akan menjadikan pemahaman kita tentang peristiwa sejarah menjadi riil.
2. Waktu
Unsur yang sangat penting dari konsep sejarah. Sejarah adalah studi tentang aktivitas manusia dilihat dari kurun waktunya. Karena itu waktu menjadi unsur dan konsep dalam sejarah. Dari unsur waktu inilah, maka di dalam sejarah, sifat kronologis menjadi sangat penting. Dari unsur waktu dan sifat kronologis, di dalam kajian sejarah dikenal adanya konsep periodisasi.

3. Manusia

Manusia di dalam peristiwa sejarah menjadi sentral, ibarat drama sebagai pemegang peran. Karena itu manusia sangat menentukan di dalam suatu peristiwa. Sejarah adalah sejarahnya manusia, bukan alam atau binatang. Peristiwa yang dikaji pun adalah peristiwa yang terkait dengan manusia. Peristiwa itu bisa cepat atau bisa berlangsung lama, bisa kompleks, tetapi bisa sederhana, tergantung akal manusia dengan lingkungan yang ada.

Peran Manusia dalam Sejarah

Peran Manusia dalam Sejarah

oleh kelompok 4, IPS 2/B
Bab I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Upaya sejarawan dalam merekonstruksi masa lalu mulai mendapatkan kendala ketika sumber penelitian yang didapat tidak dapat menjelaskan secara penuh suatu peristiwa yang pernah terjadi. Ini adalah tugas sejarawan untuk dapat melengkapi dengan penafsiran mengenai kejadian-kejadian yang hilang tersebut. Meskipun demikiam juga harus tetap berusaha menulis dengan sebenar-benarnya (obyektif). Penafsiran sejarawan (subyektif) tetap sangat diperlukan.
Subyektivitas adalah kesaksian atau tafsiran yang merupakan gambaran hasil parasaan atau pikiran manusia. Sementara itu obyektivitas adalah usaha mendekatkan diri pada obyek atau dengan kata lain berarti bertanggung jawab pada kebenaran obyek. Seorang sejarawan dalam merekonstruksi sejarah, harus mendekati obyektivitas, karena akan didapat gambaran rekonstruksi yang mendekati kebenaran.
Dalam merekonstruksi masa lalu suatu peristiwa sejarah diperlukan bukti-bukti sejarah atau lebih tepatnya fakta sejarah. Fakta atau peninggalan sejarah itu disebut obyek, baik yang bersifat artifak maupun yang berujud dokumen tertulis. Dalam suatu peninggalan sejarah, seorang sejarawan menggunakan analisis dan penafsirannya. Di sinilah akan muncul subyektivitas dalam penulisan sejarah. Dia berusaha untuk bersifat interpretative (yang menerangkan mengapa dan bagaimana peristiwa terjadi dan saling berhubungan) maupun bersikap diskriptif (yakni menceritakan apa, bilamana, dimana terjadi dan siapa yang ikut serta didalamnya).
Sehingga dalam penulisannya lebih bermakna. Dalam merekonstruksi suatu peristiwa sejarah tidaklah akan untuk sebagaimana peristiwa itu terjadi dimasa lampau. Hal ini disebabkan karena banyaknya hal atau rangkaian peristiwa yang hilang atau memang sengaja dihilangkan. Karena alasan itu juga, penafsiran dari seorang sejarawan sangat diperlukan untuk menghubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Sehingga mendekati kebenaran. Dari sini dapat dilihat bahwa suatu penulisan atau perekonstruksian peristiwa sejarah itu tidak dapat lepas dari unsur subyektivitas. Karena dalam penulisan sejarah itu tidak dapat obyektif seratus persen. Dalam penulisan sejarah, seseorang tidak dapat melepaskan subjektifitasnya. Salah satu unsur subjektifitas yang paling dominan dan sulit dielakkan adalah pengaruh dari zamannya (zeitgeist).
Setiap sejarawan memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap peninggalan-peninggalan sejarah dan kesaksian dari pelaku sejarah. Dimisalkan saja, suatu peristiwa sejarah seperti sebuah gelas kaca yang masih utuh dan bagus. Ketika gelas itu jatuh kelantai maka pecah berkeping-keping. Anggap kepingan-kepingan gelas tersebut sama dengan kepingan-kepingan peristiwa sejarah. Tugas sejarawanlah untukmengumpulkan kepingan-kepingan peristiwa sejarah yang hilang tersebut. Setelah kepingan-kepingan pecahan gelas tersebut terkumpul dan kemudian disusun, pasti ada bagian dari pecagan gelas tersebut yang hilang. Ini juga sama dengan peristiwa sejarah yang kehilangan pecahan-pecahan peristiwa. Sehingga diperlukan analisis dari seorang sejarawan untuk mengisi kekosongan peristiwa tersebut untuk menghubungkan peristiwa sejarah yang satu dengan yang lain sehingga utuh dan mendekati kebenaran (obyektif).
1.2 Rumusan Masalah
            Beranjak dai hal di atas maka dalam makalah ini akan membahasn tentang peran manusia dalam sejarah serta historisasi manusia.
1.3 Tujuan Penuisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar pembaca memahi peran manusia dalam sejarah dan memahai historisasi manusia dalam sejarah. Karena kita hidup dalam sejarah.







Bab II
Pembahasan

2.1 Peran Manusia dalam Sejarah
Manusia dalam proses sejarah selalu menempatkan diirnya sebagai objek sekaligus subjek sejarah. Keberadaan manusia sebagai makhluk sejarah, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan manusia menciptakan dunianya. Heraty mengungkapkan, bahwa manusia mampu menciptakan dunia kultural, suatu Lebenswelt. Melalui kemampuan merenung yang dimiliki manusia dapat menciptakan dunia Eigenwelt, dunia batin. Melalui dimensi Eigenwelt, manusia tidak hanya dapat mengambil jarak dengan sesuatu di luar dirinya. Manusia juga dapat mengambil jarak dengan dirinya sendiri.
Selanjutnya Bertens mengatakan bahwa kemampuan manusia menyadari dirinya sebagai makhluk sejarah tidak dapat terlepas dari kemampuan intrinsic yang dimilki oleh manusia. Manusia mampu dan berani mempertanyakan mengapa dirinya menjadi manusia. Sedangkan binatang atau tumbuhan tidak pernah menanyakan eksistensinya sebagai binatang dan atau tumbuhan. Kesadaran akan eksistensi tersebut menjadikan manusia punya peluang aktif dalam proses sejarah. Untuk itu sejarah merupakan hak prerogratif manusia.
Historisitas menunjukkan bahwa segala peristiwa yang dialami manusia selalu berada dalam konteks ruang dan waktu. Manusia tidak hanya berada dalam ruang dan waktu melainkan manusia juga mampu me-ruang. Manusia tidak hanya berada dalam deretan perubahan waktu, melainkan juga mampu me-waktu. Dalam masyarakat yang menyadari akan historisitas, nasib manusia tidak diletakkan dalam tangan pihak eksternal semata. Manusia menyadari bahwa nasibnya sangat ditentukan oleh bagaimana kiprah perjuangan manusia dalam mengarungi kehidupan yang sebenarnya. Kesadaran akan dirinya sebagai subyek sejarah mulai menonjol. Dirinya merasa bahwa manusia bukan hanya produk sejarah, melainkan juga pembuat sejarah.
Pada saat tokoh besar menggunakan pengaruh yang sangat menentukan dalam sejarah, sebenarnya pengaruh mereka masih sangat terbatas. Pilihan mereka dibatasi oleh keadaan sejarah, paling tidak aspek ruang dan waktu. Tidak ada penguasa atau pemimpin yang dapat mendorong orang banyak dan mengubah cara tanpa menggunakan beberapa macam instrument yang menekan dan mempengaruhi system yang mengorganisir kekuasaan. Realitas sosial mungkin banyak dipengaruhi oleh sang pemimpinnya, namun sang pemimpin sendiri tidak dapat menghiraukan pola dan aturan yang sedang berlangsung.
2.2 Manusia sebagai Objek sejarah
Objek sejarah yaitu perubahan atau perkembangan aktivitas manusia dalam dimensi waktu (masa lampau). Waktu merupakan unsur penting dalam sejarah. Waktu dalam hal ini adalah waktu lampau sehingga asal mula maupun latar belakang menjadi pembahasan utama dalam kajian sejarah. Untuk lebih memahami bacalah cerita tentang Sultan Agung Menyerang VOC di Batavia.
Sultan Agung (memerintah 1613-1646), raja terbesar dari Mataram, menggantikan ayahandanya, Panembahan Seda (ing) Krapyak, setelah ayahandanya ini wafat pada tahun 1613. Dalam kenyataannya dia tidak memakai gelar sultan sampai tahun 1641; mula-mula dia bergelar pangeran atau panembahan dan sesudah tahun 1624 dia bergelar susuhunan (yang sering disingkat sunan, gelar yang juga diberikan kepada kesembilan wali). Namun demikian, disebut Sultan Agung sepanjang masa pemerintahannya dalam kronik-kronik Jawa, dan gelar ini biasanya dapat diterima oleh para sejarawan.
Bagian yang paling bersejarah dalam masa Mataram islam ini adalah perlawanannya terhadap kebijakan monopoli VOC di Batavia (Sunda Kelapa). Sebelumnya kota ini bernama Fatahillah, kemudian berganti menjadi Jayakarta, pada masa VOC diganti menjadi Batavia dan setelah merdeka dirubah lagi menjadi Jakarta sampai sekarang ini.
Merebut Batavia dari tangan VOC tidaklah mudah, mengingat jauhnya jarak dari Mataram (Yogyakarta) ke Batavia (Jakarta). Jarak yang harus ditempuh pasukan Mataram selama 90 hari perjalanan. Membutuhkan persiapan yang harus matang. Persediaan logistic pangan dan air minum harus mencukupi. Untuk itu harus membentuk daerah-daerah lumbung pangan bagi tentara Mataram sebelum pertempuran sebenarnya terjadi.
Karawang yang merupakan daerah yang masih hutan belantara dan berawa-rawa rencananya akan dibentuk menjadi lumbung pangan tersebut. Daerah ini pada Abad XV adalah tempat ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusup Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro yang mendukung terhadap perjuangan melawan VOC. Sebagian besar masyarakat Karawang pada masa itu adalah seorang santri yang menjadi petani. Kondisi masyarakat dan geografis Karawang sangat cocok untuk mendukung serangan ke benteng-benteng VOC di Batavia.
Keberadaan daerah Karawang juga telah dikenal sejak Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Daerah Bogor, karena Karawang pada masa itu merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan Galuh Pakuan yang berpusat di Daerah Ciamis.
Luas Wilayah Kabupaten Karawang pada saat itu, tidak sama dengan luas Wilayah Kabupaten Karawang pada masa sekarang. Pada waktu itu luas Wilayah Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Purwakarta, Subang dan Karawang sendiri .
Setelah Kerajaan PaJajaran runtuh pada tahun 1579 Masehi, pada tahun 1580 Masehi berdiri Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran dengan Rajanya Prabu Geusan Ulun. Kerajaan Islam Sumedanglarang, pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan,Sukakerta dan Karawang. Pada tahun 1608 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Ranggagempol Kusumahdinata.
Ranggagempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumendanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengakui kekuasaan Mataram. Maka pada Tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan kerajaan Sumedanglarang di bawah naungan Kerajaan Mataram.
Ranggagempol Kusumahdinata oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati (Wadana) untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah Timur Kali Cipamali, disebelah Barat Kali Cisadane, disebelah Utara Laut Jawa, dan disebelah Selatan Laut Kidul.
Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat, dan sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, Putra Prabu Geusan Ulun.
Pada Tahun 1624, Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung, Jawa Timur untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1000 Prajurit dengan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membentuk Karawang sebagai pusat logistic pangan sebagai persiapan melawan VOC di Batavia dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.
Langkah awal yang dilakukan Aria Surengrono adalah dengan mendirikan 3 (tiga) Desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), Desa Parakansapi (di Kecamatan Pangkalan yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan Desa Adiarsa (Sekarang ternlasuk di Kecamatan Karawang Barat), dengan pusat kekuatan di ditempatkan di Desa Waringinpitu.
Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dengan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai angqapan bahwa tuqas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.
Demi menjaga keselamatan Wilayah Kerajaan Mataram sebelah barat, pada tahun 1628 dan 1629, bala tentara Kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia. Namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan yang sangat berat. Sultan Agung kemudian menetapkan Daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram serta harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rencana penyerangan kembali terhadap VOC (belanda) di Batavia.
Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa Sari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dengan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang dianggap gagal.
Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya langsung dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugrahi jabatan Wedana (Setingkat Bupati) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama “Karosinjang”.
          
Setelah penganugrahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dahulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya.Atas takdir IIlahi Beliau kemudian wafat saat berada di Galuh.
Setelah Wiraperbangsa Wafat, Jabatan Bupati di Karawang dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677.
Pada abad XVII kerajaan terbesar di Pulau Jawa adalah Mataram, dengan raja yang terkenal yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. la tidak menginginkan wilayah Nusantara diduduki atau dijajah oleh bangsa lain dan ingin mempersatukan Nusantara.
Dalam upaya mengusir VOC yang telah menanamkan kekuasaan di Batavia, Sultan Agung mempersiapkan diri dengan terlebih dahulu menguasai daerah Karawang, untuk dijadikan sebagai basis atau pangkal perjuangan dalam menyerang VOC.
Ranggagede diperintahnya untuk mempersiapkan bala tentara/prajurit dan logistik dengan membuka lahan-Iahan pertanian, yang kemudian berkembang menjadi lumbung padi.
Tanggal 14 September 1633 Masehi, bertepatan dengan tanggal 10 Maulud 1043 Hijriah, Sultan Agung melantik Singaperbangsa sebagai Bupati Karawang yang pertama, sehingga secara tradisi setiap tanggal 10 Maulud diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Karawang.
Berawal dari sejarah tersebut dan perjuangan persiapan proklamasi kemerdekaan RI, Karawang lebih dikenal dengan julukan sebagai kota pangkal perjuangan dan daerah lumbung padi Jawa Barat.
Dipandang sebagai obyek atau dalam kalimat keterangan penderita, atau “aku” yang bersifat pasif, atau dijadikan obyek pemahaman, atau yang dalam keadaan yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan lain. Namun apabila diungkapkan dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa, dalam keadaan yang bagaimanapun seorang manusia tidak akan pernah dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai obyek sepenuhnya, karena dalam keadaan yang bagaimanapun manusia tetap merupakan subyek.
2.3 Manusia Sebagai Subjek Sejarah
Pelaku sejarah merupakan orang yang terlibat secara langsung dalam suatu peristiwa sejarah, sementara saksi sejarah merupakan orang yang mengetahui suaru peirtiwa sejarah meskipun tidak terlihat secara langsung (Kuntowijoyo, 2005:6). Manusia adalah objek sekaligus subjek sejarah. Pada satu sisi sejarah menceritakan tentang kisah kehidupan manusia pada masa lalu, sementara pada sisi yang lain kisah kehidupan manusia pada masa lalu tersebut dibuat oleh manusia. Bacalah Biografi Cut Nyak Dien Berikut
Cut nyak dien adalah seorang sosok pahlawan wanita dari aceh barat yang mendapat julukan srikandi Indonesia. Cut nyak dien anak dari teuku nan setia. Sedangkan ibunya anak bangsawan dari lampar. Kakaknya bernama teuku rakyat. Cut nyak dien dilahirkan tahun 1848.
MELETUSNYA ERANG ACEH MULAI TANGGAL 4 JUNI 1873
Suami cut nyak dien yang pertama adalah teuku Ibrahim  dari lamnga, anak dari teuku abas. Dan dikarunia anak perempuan kemudian di beri nama cut gambang. Suami cut nyak dien ditembak oleh belanda. Cut nyak dien menikah lagi dengan panglima perangnya bernama teuku umar. Teuku umar juga tertembak belanda pada tanggal 11 februari 1899 di ujung kala malaboh.
Pada tanggal 6 november 1905 cut nyak dien tertangkap oleh belanda. Pada saat itu mata cut nyak dien dalam keadaan tidak bias melihat (buta). Pada tanggal 11 desember 1906 dibuang ke seumedang bersama panglima dan seorang anak laki-laki berumur 15 tahun. Pada waktu gubernur jendral belanda. Waktu bupati sumedang pangeran surya aria atmaja. Untuk merawa cut nyak dien pangeran surya atmaja menyerahkan cut nyak dien ke K.H Sanusi. Pada waktu itu rumahnya kecil. Setelah satu tahun merawat 1 tahun K.H Sanusi meninggal pada tahun 1967 dan dimakamkan di gunung puyuh sumedang.
Kemudian cut nyak dien diurus oleh anak K.H sanusi yaitu H.Husna. semua kepentingan cut nyak dien sangat diperhatikan pangeran aria suriiatmaja. waloupun mata cut nyak dien tidak bias melihat tapi cut nyak dien bisa mengajarkan ibu-ibu mengaji, maka cut nyak dien di beri julukan ibu perbu/ ibu ratu masyarakat. Cut nyak dien sangat dekat dengan siti khodijah (anak dari H. Husna). Pada tahun 1967 siti khodijah meninggal dan dimakamkan di gunung puyuh. Setelah cut nyak dien meninggal 1908 teuku nana tetap tinggal di sumedang. Dan menikah dengan orang cipada bernama iyoh dan mempunyai tiga orang anak
1.     Maskun
2.     Ninih
3.     Sahria.
Dan pada tahun 1930 teuku nana, istri dan anaknya pulang ke aceh dan tidak kembali.
Rumah bekas cut nyak dien beukuran 12 x14 m. tinggi 1m , kamar tidurnya 3 x 5m,  ranjangnya berukuran 2 x 2m, kemudian pada tahun 1962 Rd oemar Sumantri, anak siti khodijah member ijin untuk upacara sederhana mengenang jasa cut nyak dien pada tahun 1972 makam cut nyak dien direnovasi oleh bustanil arifin.
Pada tahun 2008 berdirilah KAMAS( keluarga masyarakat aceh) Ir rusdi abdul thalib sebagai ketuanya dan kerjasama dengan pemerintah daerah sumedang. Bila ingin mengetahui lebih lanjut sejarah CUT NJA DIEN dating saja ke makam gunung puyuh, karena disana terdapat makam CUT NJA DIEN, kemudian tanyakan pada juru kuncinya.
Dalam Konteks kekinian, kita perlu membaca, menyimak, dan kalau perlu membaca serta mengkaji kisah-kisah kehidupan pada masa lalu. Pemahaman terhadap nilai sejarah tergantung pada pemahaman terhadap suatu peristiwa sejarah. Pemahaman sejarah amat penting dimiliki oleh setiap manusia, mengingat keberadaannya dalam arus dimensi waktu.
2.4 Historisitas Manusia
Kesadaran sejarah, yang dalam ilmu sejarah disebut dengan historisitas, adalah gambaran tingkat kesadaran suatu kelompok masyarakat terhadap arti penting masa lalu. Gambaran ini akan terlihat dari cara memandang masa lalu itu sebagai suatu hal yang penting untuk diungkapkan secara benar. Berbagai kepentingan dapat saja memboncengi pengungkapan masa lalu itu, seperti untuk kepentingan politik dalam menjaga legitimasi suatu golongan dalam masyarakat, mungkin untuk tujuan mengukuhkan keberadaan suatu ideologi atau kepercayaan tertentu ataupun sekedar memperoleh kenikmatan kenangan masa lalu. Pengungkapan sejarah masa lalu (historiografi) dari suatu masyarakat sangat ditentukan oleh kesadaran sejarah yang mereka miliki, karena, baik bentuk ataupun cara pengungkapannya, akan selalu merupakan ekspressi kultural dan pantulan keprihatinan sosial masyarakat yang menghasilkan sejarah itu sendiri (Taufik Abdullah,1985:XX ; Sartono, 1982:16).
Manusia adalah pelaku sekaligus pembuat sejarah. Historisitas manusia seperti itu pada dasarnya merupakan gambaran tentang bagaimana cara manusia berekstensi dalam kehidupannya di dunia ini. Pemahaman tentang historisitas manusia amat penting bagi kita dalam kaitanya dengan usaha untuk membangun kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah mengandung arti :
a. kesadaran akan pentingnya dan berharganya waktu untuk di manfaatkan sebaik-baiknya,
b. kesadaran akan terjadinya perubahan yang berlangsung secara terus menerus sepanjang kehidupan umat manusia.
c. keasadaran akan pentingnya kemampuan untuk mengidentifikasi nilai-nialai yang terkandung dalam suatu peristiwa sejarah
kesadaran sejarah yang kita miliki memungkinkan kita untuk selalau berjuang mencapai kehidupan yang semakin sempurna.
Untuk memahai historisitas manusia, simaklah bacaan berikut.
Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang olehAmerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia.
Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur lautSaigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.
Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.
Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepangmasih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Maeda, di Jalan Imam Bonjol no. 1.Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Keesokan harinya Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, Para pemuda pejuang termasuk Chaerul saleh, Sukarni, Wikana, Shodanco Singgih dan pemuda lainnya membawa soekarno, beserta fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan dan hatta ke rengasdengklok yang kemudian dikenal dengan peristiwa rengasdengklok.
Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.
Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Dan Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu – buru memproklamasikan kemerdekaan.
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, Lalu bertemu dengan Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang. Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokio bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi ijin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu. Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi.
Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro dan Sayuti Melik. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Dan Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik milik Mayor Dr. Hermann Kandeler (dari kantor perwakilan AL Jerman). Dan  pembacaan proklamasi dilakukan dikediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).
Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan oleh seorang prajurit PETA yaitu Latief Hendraningrat dibantu oleh Soehoed dan seorang pemudi membawa nampan berisi bendera Merah Putih . Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempersiapkan kemerdekaan, menyatakan kemerdekaan , dan sekaligus mempertahankan kemerdekaan merupakan sebuah peristiwa ssejarah yang hanya mungkin terjadi karena para pejuan kita memiliki kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah yang kita miliki meman akan memberikan bekal kepada kita untuk membangun konsep bahwa manusia adalah makhluk pejuang dan sekaligus makhluk pembangun. Oleh karena itu, manusia adalah makhluk historis.






Bab III
Penutup

3.1 Kesimpulan
Manusia dalam proses sejarah selalu menempatkan diirnya sebagai objek sekaligus subjek sejarah. Keberadaan manusia sebagai makhluk sejarah, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan manusia menciptakan dunianya. Heraty mengungkapkan, bahwa manusia mampu menciptakan dunia kultural, suatu Lebenswelt. Melalui kemampuan merenung yang dimiliki manusia dapat menciptakan dunia Eigenwelt, dunia batin. Melalui dimensi Eigenwelt, manusia tidak hanya dapat mengambil jarak dengan sesuatu di luar dirinya. Manusia juga dapat mengambil jarak dengan dirinya sendiri.
Objek sejarah yaitu perubahan atau perkembangan aktivitas manusia dalam dimensi waktu (masa lampau). Pelaku sejarah merupakan orang yang terlibat secara langsung dalam suatu peristiwa sejarah, sementara saksi sejarah merupakan orang yang mengetahui suaru peirtiwa sejarah meskipun tidak terlihat secara langsung (Kuntowijoyo, 2005:6).
Manusia adalah pelaku sekaligus pembuat sejarah. Historisitas manusia seperti itu pada dasarnya merupakan gambaran tentang bagaimana cara manusia berekstensi dalam kehidupannya di dunia ini.
Kesadaran sejarah yang kita miliki meman akan memberikan bekal kepada kita untuk membangun konsep bahwa manusia adalah makhluk pejuang dan sekaligus makhluk pembangun. Oleh karena itu, manusia adalah makhluk historis.
3.2 Saran
Kurangnya pemahaman tentang peran manusia dalam sejarah menjadikan materi ini sangat sulit didapat baik di media online maupun pustaka. Untuk itu, bagi setiap pengajar agar memberikan materi yang sangat detail kepada murid karena minimnya informasi yang di dapat.

Unsur-unsur dalam sejarah

Unsur-unsur dalam sejarah

Karena sejarah tidak semata-mata bertujuan untuk menceritakan kejadian, tetapi bermaksud menerangkan kejadian itu dengan mengkaji sebab-sebabnya, kondisi lingkungannya, konteks sosial budayanya,
Advertisement
pendeknya secara mendalam akan diadakan analisis mengenai faktor-faktor kausal, kondisional, kontekstual tentang unsur-unsur y ang merupakan komponen dan eksponen dari proses sejarah yang dikaji.
Dalam bidang kajian keilmuan, sejarah termasuk disiplin ilmu, baik arts maupun humaniora. Sedangkan kajiannya yang bersifat sinkronik menjadikan ilmu sejarah juga termasuk ke dalam “ilmu sosial”.
Oleh karena itu, sejarah tidak dapat dipisahkan dari pendidikan ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora) yang dapat melatih daya untuk berpikir, memberikan kesadaran kepada kita akan nilai-nilai yang telah manusia lahirkan dan temukan melalui pikiran, perasaan, atau perbuatannya.
Advertisement
Sejarah memberikan pengalaman yang luas mengenai kehidupan manusia pada tempat yang berbeda-beda dan waktu yang berbedabeda pula.
Pada pihak lain sejarah juga termasuk salah satu ilmu sosial karena ia berbicara tentang masyarakat manusia dalam perspektif waktu, berbicara tentang masalah-masalah yang telah dihadapi oleh masyarakat dalam interaksi mereka satu sama lain, dan bagaimana mereka telah berhasil atau gagal dalam menghadapi dan mengatasinya.
Di dalam sejarah ada tiga unsur penting, seperti terlihat di bawah ini:
1. Ruang
Tempat terjadinya peristiwa, jadi terkait dengan aspek geografis. Unsur ruang ini akan menjadikan pemahaman kita tentang peristiwa sejarah menjadi riil.
2. Waktu
Unsur yang sangat penting dari konsep sejarah. Sejarah adalah studi tentang aktivitas manusia dilihat dari kurun waktunya. Karena itu waktu menjadi unsur dan konsep dalam sejarah. Dari unsur waktu inilah, maka di dalam sejarah, sifat kronologis menjadi sangat penting. Dari unsur waktu dan sifat kronologis, di dalam kajian sejarah dikenal adanya konsep periodisasi.

3. Manusia

Manusia di dalam peristiwa sejarah menjadi sentral, ibarat drama sebagai pemegang peran. Karena itu manusia sangat menentukan di dalam suatu peristiwa. Sejarah adalah sejarahnya manusia, bukan alam atau binatang. Peristiwa yang dikaji pun adalah peristiwa yang terkait dengan manusia. Peristiwa itu bisa cepat atau bisa berlangsung lama, bisa kompleks, tetapi bisa sederhana, tergantung akal manusia dengan lingkungan yang ada.

Sejarah sebagai Seni - Beberapa Contoh Candi Unik

Sejarah sebagai Seni - Beberapa Contoh Candi Unik

Kita tentu tak asing dengan mata pelajaran Sejarah nan biasa kita pelajari dari SD hingga SMA, pernahkah kita berpikir bahwa sejarah sebagai seni merupakan warisan adiluhung dari nenek moyang bangsa kita? Kebanyakkan dari kita sering malas belajar Sejarah sebab harus hafalan tanggal-tanggal.
Terlepas dari itu semua, sejarah sebagai seni mempunyai fungsi nan luar biasa besar pada perkembangan kesenian kita. Tapi sayangnya, banyak nan melupakan sejarah bangsa ini sehingga kesenian nan ikut menempel lambat laun juga luntur. Padahal, estetika seni budaya dapat terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarah nan ada.
Sejarah sebagai seni warisan adiluhung sebab ada unsur-unsur nan membuat pembaca tertarik buat melihatnya. Oleh sebab itu, seni nan ditawarkan dalam sejarah biasanya mengandung ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama intuisi, yaitu pemahaman langsung terhadap objek, dalam hal ini misalnya ingin meneliti harus menempatkan diri sebagai seniman. Karakteristik kedua, berupa imajinasi, dimana pembaca berimajinasi tentang peristiwa apa nan sebenarnya telah terjadi dan ada Borobudur, maka kita akan mendapatkan sebuah cerita tentang ramayana. Jika tak ada imjinasi sebuah peristiwa mungkin akan kesulitan menyerap maknanya.
Selain intusi dan imaji nan mendukung sebuah sejarah sebagai seni, karakteristik selanjutnya atau karakteristik ketiga ialah emosi. Pembaca di loka ini hendaknya dilibatkan langsung dari segi perasaan seolah-olah mengalami sendiri peristiwa nan pernah terjadi, sehingga ada penyatuan objek dan perasaan.
Ciri keempat ialah gaya bahasa. Hal ini menyangkut naskah-naskah lama nan mungkin menggunakan tulisan Jawa antik dan Sansekerta. Meskipun tulisannya mungkin bagi generasi muda sudah tak banyak nan dapat membacanya, namun apabila tetili dikaji arti dari tulisan itu lugas dan tegas sehingga mudah dipahami pembaca.


Sejarah sebagai Seni - Candi merupakan Sejarah sekaligus Seni Siapa nan pernah pergi ke Candi Borobudur atau prambanan? Pastinya tak asing bukan dua buah candi terbesar nan ada di Indonesia ini. Kalau sudah pernah pergi ke sana, tentunya juga tak asing bukan dengan pahatan atau ukiran nan ada di setiap dinding candi? Pahatan atau ukiran nan ada di candi borobudur banyak menceritakan tentang kisah Ramayana dari agama Budha, sedangkan ukiran dari Candi Prambanan merupakan sebuah cerita mengenai zaman kejayaan agama Hindu.
Candi Borobudur dan Candi Prambanan merupakan sejarah sekaligus kesenian sebab telah menyedot begitu banyak pembaca sejarah buat tertarik menggali informasi sejarah tentang kejadian nan ada di masa silam. Hal itu sebab kejadian nan ada di masa silam ialah estetika sekaligus informasi nan perlu diungkap. Kita bisa kejadian atau peristiwa nan ada pada silam dengan melihat ukiran dan patung-patung nan biasanya ada di sekitar candi.
Pengalaman aku ketika melihat tukang pahat di daerah Mojokerto nan memang terkenal sebagai loka jual beli patung, pada kenyataannya sangat sulit dan dibutuhkan waktu nan lama. Apalagi pada zaman dulu, tentunya belum ada alat nan lebih baik dari zaman nan digunakan buat memahat. Tidak terbayang betapa susahnya memahat Candi Borobudur dan Prambanan pada kala itu ya. Oleh sebab itulah peninggalan sejarah dikatakan sebagai seni warisan nan adiluhung, bukan sembarang orang nan dapat memahat sebanyak itu.


Sejarah sebagai Seni - Beberapa Contoh Candi Unik Selain kedua candi terbesar di atas, ada beberapa candi unik nan menyebar di seluruh Indonesia. Pada umumnya, candi-candi ini memiliki gaya ukiran dan patung nan khas serta menarik buat dilihat. Sejarah sebagai seni benar-benar dibuktikan oleh keberadaan candi-candi ini. Bahkan ada nan tak mempunyai relief namun tetap memiliki keindahan. Berikut ialah daftar dari candi-candi unik tersebut.


1. Beberapa Contoh Candi Unik - Candi Sukuh nan Berada di Daerah Karanganyar, Solo Candi ini bentuknya trapesium mirip dengan bangunan dari suku Maya. Candi Sukuh merupakan peninggalan dari agama Hindu Jawa. Hal nan membedakan candi ini dengan candi lainnya ialah ukiran dan patung dari candi ini terkesan agak porno atau erotis. Contohnya ialah di candi ini ada arca tanpa kepala nan sedang memegang kelaminnya, patung manusia dengan kepala burung nan mirip bangsa sumeria, serta lantai batu mendatar nan berbentuk penis dan vagina saling menempel.
Bangunan nan menyerupai lingga dan yoni juga terdapat di candi ini. Dilihat dari adaanya lingga dan yoni nan merupakan lambang kesuburan, maka bisa disimpulkan bahwa candi sukuh menceritakan sebuah perjalanan hayati manusia. Dimana ketika manusia dilahirkan hanya ada dua sifat nan akan inheren pada orang tersebut, yaitu baik atau buruk. Hanya ada dua pilihan, entah mana nan nanti lebih dominan dalam perjalanan hayati orang tersebut.


2. Beberapa Contoh Candi Unik - Candi Simping Candi ini mungkin agak asing di telinga kita, namun bagi masyakarat di Desa Kadhemangan, kabupaten Blitar, Jawa Timur tentu sudah biasa. Relief nan terdapat di candi ini juga tak terlepas dari unsur lingga dan yoni sebagai lambang kesuburan. Hal nan membedakkannya ialah banyak terdapat reilef gambar hewan seperti kura-kura, babi hutan, kuda poni, bahkan ada relief kembang dan tanaman suluran.
Bangunan Candi Simping terkenal unik sebab tersusun dari berbagai jenis batu, tepatnya batu andesit dan batu bata. Buktinya ialah reruntuhan dari candi ini nan berlubang, namun masih bisa merekat kuat meski tak ada campuran semen. Hal ini menunjukkan bahwa batu itu ialah batu sambungan dari jenis bebatuan nan tidak sama.
Sayangnya, candi nan bersejarah nan memiliki nilai seni ini hanya dapat dilihat reruntuhannya saja. Melalui reruntuhannya ini, kita dapat melihat relief dan arca nan ada pada Candi Simping. Meskipun candi ini tinggal reruntuhannya saja, tetapi setiap harinya selalu ada pengunjung nan datang. Hal ini mungkin terkait dengan Candi Simping nan merupakan loka pandhermaan Raden Wijaya, pendiri kerajaan majapahit.


3. Beberapa Contoh Candi Unik - Candi Pari dan Candi Sumur Candi ini juga merupakan peninggalan sejarah nan berseni tinggi. Syahdan kabarnya, kedua candi ini tak mempunyai relief dan ukiran. Dua candi ini terletak bersebelahan dan berada di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Candi ini bernilai seni tinggi sebab anak tangga dari candi ini cukup curam, sehingga kalau hendak naik harus hati-hati, serta bangunan candi nan tetap bercirikan khas bangunan candi Jawa timur yaitu tersusun dari batu bata merah.


4. Beberapa Contoh Candi Unik - Candi Ngawen Candi Ngawen terletak 5 km dari komplek Candi Mendut, lebih tepatnya terletak di tengah area persawahan. Candi ini juga bernilai seni tinggi sebab ada empat patung singa nan ada di setiap sudut candi dan di setiap mulutnya ada pipa saluran air. Lalu ,di bagian tengah candi terdapat patung Budha nan sudah tak ada kepalanya lagi.
Untuk masuk ke area candi ini tak perlu membayar retribusi, cukup dengan menulis nama di daftar tamu. Candi ini terdiri dari 5 candi, 3 candi di sisi barat, dan 2 candi di sisi timur. Suasana di sekitar candi nan dekat area persawahan juga mendukung estetika dari candi ini. Pertama kali candi ini ditemukan oleh seorang nan bernama Hopermans pada tahun1864 dari Belanda.


5. Beberapa Contoh Candi Unik - Candi Barong Candi Barong ialah salah satu candi bersejarah nan bernilai seni sebab bentuknya nan unik, yaitu meruncing ke atas. Kemungkinan bentuk candi ini dikaitkan dengan fungsinya buat pemujaan kesuburan, karena tanah di sekitar memang terlihat tandus dan kurang subur. Candi barong dibangun dibangun pada abad IX-X masehi dengan latar agama Hindhu. Lokasi candi ini tak jauh dari Candi prambanan, tepatnya di perbukitan Dusun Candi Sari, desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.
Candi pada dasarnya memang contoh gampang dari sejarah nan memiliki seni budaya tinggi. Hal itu sebab dengan melalui seni, kita dapat belajar tentang keindahan, baik estetika kata-kata atau pun estetika visual. Sedangkan kita ketahui bahwa candi memuat begitu banyak relief nan bercerita tentang kejadian suatu hal.
Begitu juga dengan pahatan dari arca-arca nan biasanya di candi-candi juga latif buat dilihat. Kita merasakan sebuah kepuasan dan kekaguman kala melihat di estetika masing-masing candi. Ketika itu kita bisa menyimpulkan bahwa candi merupakan sejarah sebagai seni.

Seni

Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni

Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni

1.Sejarah sebagai peristiwa

Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau menjadi sangat penting dalam pembahasan ilmu sejarah. Melalui peristiwa, ilmu sejarah mendapat gambaran tentang kehidupan manusia di masa lampau. Sejarah sebagai peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau mengakibatkan kita tidak mungkin lagi mengamati peristiwa tersebut, yang dapat kita amati adalah sejarah sebagai kisah, yaitu penelaahan sejarah sebagai kisah suatu peristiwa. 

Sejarah sebagai peristiwa, maksudnya peristiwa sejarah ditempatkan sebagai fakta, kejadian, dan kenyataan yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Kejadian masa lampau tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengetahui dan merekonstruksi kehidupan pada masa tersebut. Dari peristiwa-peristiwa itu, dapat diketahui sebab akibat terjadinya suatu peristiwa. Tanpa memandang besar kecilnya suatu peristiwa atau kejadian-kejadian dalam ruang lingkup kehidupan manusia, ilmu sejarah berusaha menyusun rangkaian peristiwa yang terjadi dalam ruang lingkup kehidupan manusia sejak dahulu sampai sekarang, bahkan prediksi kejadian yang akan datang.

2.Sejarah sebagai kisah

Semua hasil karya cipta manusia merupakan suatu bukti dari kisah manusia yang hidup dan dinamis. Membicarakan sejarah sebagai kisah tidak lepas dari peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lampau. Sejarah sebagai kisah adalah hasil karya, cipta, dan penelitian berbagai ahli yang kemudian menulisnya. Penulisan yang dapat dipertanggungjawabkan harus melalui penafsiran yang mendekati kebenaran peristiwa yang terjadi. Sementara itu, untuk merekonstruksi kisah sejarah harus mengikuti metode analisis serta pendekatan tertentu. 
Dengan kata lain, sejarah sebagai kisah adalah kejadian masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran dan interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Menyusun kisah sejarah dari suatu masyarakat, bangsa, dan negara tidaklah mudah karena jejak-jejak sejarah yang ditinggalkannya tidak sedikit. Oleh karena itu, dalam penyusunannya memerlukan penelaahan yang sangat jeli dan bijaksana serta verifikatif sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penyusunan sejarah sebagai kisah, para sejarawan menggunakan dasar jejak-jejak yang ditinggalkan oleh sejarah sebagai peristiwa. Jejak-jejak sejarah yang berisi kehidupan rangkaian peristiwa atau kejadian dalam lingkup kehidupan manusia menjadi sumber penting dalam penulisan kisah sejarah.

3.Sejarah sebagai ilmu

Sejarah dikatakan sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan masa lampau yang disusun secara sistematis dengan metode kajian secara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran mengenai peristiwa masa lampau. 
Menurut C.E. Berry, sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan, tidak kurang dan tidak lebih. Adapun menurut York Powell, sejarah bukanlah hanya sekadar suatu cerita indah, instruktif, dan mengasyikkan, tetapi merupakan cabang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan harus dibuktikan secara keilmuan dengan menggunakan metode-metode dan berbagai standar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. 
Kebenaran itu dapat dibuktikan dari dokumen yang telah diuji sehingga dapat dipercaya sebagai suatu fakta sejarah. Sejarah dianggap sebagai ilmu sebab sejarah memiliki syarat-syarat ilmu, antara lain ada masalah yang menjadi objek, ada metode, tersusun secara sistematis, menggunakan pemikiran yang rasional, dan kebenaran bersifat objektif.

Jika melihat hal tersebut, sejarah sebagai ilmu dapat memenuhinya, dikarenakan:

a.objek kajian sejarah ialah kejadian-kejadian di masa lalu yang merupakan sebab akibat;

b.adanya metode sejarah yang menghubungkan bukti-bukti sejarah;

c.kisah sejarah tersusun secara sistematis dan kronologis;

d.kebenaran fakta diperoleh dari penelitian sumber yang disusun secara rasional dan kritik (penilaian) yang sistematis;

e.fakta bersifat subjektif karena tiap orang melihat masa lampau dengan cara yang berbeda. Kebenaran hanya "milik" peristiwa ini sendiri. Namun kebenaran fauna adalah juga objektif, maksudnya kebenaran harus diakui oleh intersubjektivitas atau diakui oleh banyak sejarawan dan masyarakat luas.

4.Sejarah sebagai seni

Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah  George Macauly Travelyan. Ia menyatakan bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah, karena memerlukan imajinasi dan seni. Menulis sejarah merupakan seni, filsafat, polemik, dan dapat sebagai propaganda. Sejarawan abad 19 bernama Comte, Spencer,dan Mill menyebutkan bahwa metode dan sikap ilmiah pengetahuan alam dapat  dipergunakan untuk mempelajari sejarah, tanpa memerlukan modifikasi lebih lanjut. Namun menurut Dithley, seorang filsuf modern, menyatakan bahwa hal tersebut adalah tidak benar, sebab sifat alami dari pengetahuan alam adalah sesuatu yang selalu nyata dan terlihat, sehingga sejarah yang bersifat abstrak tidak mudah menganalisisnya. Oleh karena itu, sejarah adalah pengetahuan tentang rasa.

Dithley menambahkan bahwa pemahaman dengan cara imajinatif mampu menjadikan fakta sejarah lebih hidup dan lebih berarti. Itulah sebabnya, menurut George Macauly Travelyan dalam penulisan kisah sejarah harus menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dimengerti. 
Dengan demikian, diperlukan seni dalam penulisan sejarah sehingga tercipta suatu peristiwa sejarah yang dapat dipelajari secara urut, lengkap, menarik, dan tidak membosankan. Oleh karena itu, seorang sejarawan harus bersedia menjadi ahli seni untuk menghidupkan kembali kisah kehidupan di masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Dengan demikian selain elemen ilmiah sejarah juga mengandung elemen seni.

Sejarah Sebagai Seni

Sejarah Sebagai Seni

“Hai guys,..... sejarah kelas x .blogspot.com kali ini akan membahas tentang Sejarah Sebagai Seni. Postingan  ini diharapkan dapat membantu kalian dalam mengamati, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan  data  lanjutan, mengasosiasi serta mengkomunikasikan hasil analisis dalam bentuk mengenai pengertian ilmu sejarah, objek ilmu sejarah, sumber ilmu sejarah, peristiwa sejarah,  tema-tema kajian ilmu sejarah, tujuan dan makna belajar masa lalu.”



Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Menurut Travelyan menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah karena memerlukan imajinasi dan seni. Dalam seni dibutuhkan intuisi, emosi, dan gaya bahasa. Sejarah dapat juga dilihat sebagai seni. Seperti halnya seni, sejarah juga membutuhkan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa.
Intuisi dibutuhkan sejarawan terutama yang berkaitan dengan pemahaman langsung selama penelitian. Setiap langkah yang harus dikerjakan oleh sejarawan memerlukan kepandaian dalam memutuskan apa yang harus dilakukan. Seringkali untuk memilih suatu penjelasan, bukanlah perangkat ilmu yang berjalan tetapi intuisi. Demikian halnya ketika harus menggambarkan suatu peristiwa atau berupa deskripsi, sejarawan sering tidak sanggup melanjutkan tulisannya. Dalam keadaan seperti itu, sebenarnya yang diperlukan adalah intuisi. Namun, meskipun mengandalkan intuisi, sejarawan harus tetap berdasarkan data yang dimilikinya.
Sejarawan juga membutuhkan imajinasi, misalnya membayangkan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang terjadi, pada suatu periode yang ditelitinya. Imajinasi yang digunakan tentunya bukanlah imajinasi liar melainkan berdasarkan keterangan atau data yang mendukung. Misalnya seorang sejarawan akan menulis priyayi awal abad ke-20. Ia harus memiliki gambaran, mungkin priyayi itu anak cucu kaum bangsawan atau raja yang turun statusnya karena sebab-sebab alamiah atau politis. Imajinasi seorang sejarawan juga harus jalan jika ia ingin memahami perlawanan Sultan Palembang yang berada di luar ibu kota pada abad ke-19. Sejarawan dituntut untuk dapat membayangkan sungai dan hutan yang mungkin jadi tempat baik untuk bersembunyi (Kuntowijoyo 2001:70).
Demikian halnya dengan emosi. Dalam penulisan sejarah terdapat pula keterlibatan emosi. Di sini penulis sejarah perlu memiliki empati yang menyatukan dirinya dengan objek yang diteliti. Pada penulisan sejarah zaman Romantik yaitu pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, sejarah dianggap sebagai cabang sastra. Akibatnya, menulis sejarah disamakan dengan menulis sastra, artinya menulis sejarah harus dengan keterlibatan emosional. Orang yang membaca sejarah penaklukan Meksiko, jatuhnya Romawi, pelayaran orang Inggris ke Amerika, harus dibuat seolah-olah hadir dan menyaksikan sendiri peristiwa itu. Penulisnya harus berempati, menyatukan perasaan dengan objeknya. Diharapkan sejarawan dapat menghadirkan objeknya seolah-olah pembacanya mengalami sendiri peristiwa itu (Kuntowijoyo 2001:70-71).
Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah gaya bahasa. Dalam penulisan sejarah, sejarawan harus menggunakan gaya bahasa yang tidak berbelit-belit, tidak berbunga-bunga, tidak membosankan, komunikatif dan mudah dipahami. Khususnya dalam menghidupkan suatu kisah di masa lalu. Di sini yang diperlukan adalah kemampuan menulis secara terperinci (detail).
Berbeda dengan karya sastra, dalam penulisan sejarah harus berusaha memberikan informasi yang lengkap dan jelas. Serta menghindari subjektivitas dan mengedepankan obyektivitas berdasarkan penggunaan metode penelitian yang tepat.
Namun, sejarah sebagai seni memiliki beberapa kekurangan yaitu sejarah sebagai seni akan kehilangan ketepatan dan obyektivitasnya. Alasannya, seni merupakan hasil imajinasi. Sementara ketepatan dan obyektivitas merupakan hal yang diperlukan dalam penulisan sejarah. Ketepatan berarti adanya kesesuaian antara fakta dan penulisan sejarah. Sedangkan obyektivitas berarti tidak ada pandangan yang individual.  Kedua hal ini menimbulkan kepercayaan orang pada sejarawan dan memberikan kesan penguasaan sejarawan atas detail tulisan sejarah. Namun, kesan akan kedua hal itu akan hilang jika sejarah menjadi seni karena sejarah berdasarkan fakta dan seni merupakan hasil imajinasi. Sejarah yang terlalu dekat seni pun dapat dianggap telah memalsukan fakta.
Sumber :

Referensi :
  • Abdullah, Taufik. 2001. Nasionalisme & Sejarah. Bandung: Satya Historika.
  • Alfian, Ibrahim (eds.). 1992. Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  • Ali. R. Moh. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. diterbitkan pertama kali 1963 oleh Bharata Jakarta. Yogyakarta: LKIS.
  • Ankersmit, F.R. 1987. Refleksi tentang Sejarah. Jakarta: Gramedia.
  • Danandjaya, James. 1991. Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti.
  • Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kuntowidjoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.
  • Febriyanti, Rosiana.2013. “Metode Pembelajaran Sejarah” Republika 16 Maret
  • Gardiner, Juliet (ed). 1988. What is History Today...?. Hongkong: Macmillan Education.
  • Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
  • Hassan, Hamid.S. 2010. “Pendidikan Sejarah: Kemana dan Bagaimana? ” dalam Jurnal Pendidikan Sejarah AGSI. Jakarta: Asosiasi Guru Sejarah Indonesia & Institut Sejarah Sosial Indonesia.
  • Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.
  • Munajat, Ade. 2004. Sejarah 1. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Resink, G.J. 2012. Bukan 350 Tahun Dijajah. Depok: Komunitas Bambu.
  • Sjamsudin, Helius. 2012. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
  • Soedjatmoko (ed). 1995. Historiografi Indonesia. Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
  • Swantoro, P. 2002. Dari Buku ke Buku. Jakarta: KPG & Tembi.

3 ciri utama sejarah

3 ciri utama sejarah

3 ciri utama sejarah – Sejarah merupakan cabang ilomu pengetahuan yang berkembang dengan metode-metode serta standar-standar tertentu. Mempelajari ilmu sejarah merupakan suatu jenis berfikir secara historis.
Cara berpikir sejarah berbeda dentgan cara berpikir ilmu pengetahuan alam. Alasannya, cara berpikir sejarah akan selalu berkaitan dengan masa lampau, sedangkan ilmu pengetahuan alam akan berkaitan dengan sekarang.
Perhatian sejarah terfokus pada pengalaman dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manusia, serta peritiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi dalam lingkup manusia. Sebagai suatu studi, sejarah meneliti sepanjang kehidupan manusia, yaitu sejak manusia pertama kali muncul di bumi ini hingga sekarang.

Ciri-ciri sejarah

Dalam kehidupan manusia, peristiwa sejarah merupakan suatu peritiwa yang abadi unik dan penting.
1. Peritiwa yang abadi
Peristiwa sejarah merupakan suatu peritiwa yang abadi, karena peristiwa tersebut tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa.
2. Peritiwa yang unik
Peristiwa sejarah merupakan pristiwa yang unik karena hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terulang sama persis untuk kedua kalinya.
Peristiwa yang penting
Peristiwa sejarah merupakan speristiwa yang penting dan dapat dijadikan momentum, karena mempunyai arti dalam menentukan kehidupan orang banyak.